Kamis, 15 September 2016

Emas Kejujuran, di Negri Jaya

1.     Pendahuluan



Alkisah masa depan, di sebuah negri ada seorang raja bernama Oru. Negrinya penuh dengan kejahatan, penyelewengan, korupsi, dan kegelapan. Karena sering berbohong banyak negara memusuhi negri Oru. Mengikuti perilaku raja Oru, para pejabatnya penuh dengan korupsi dan kesombongan. Masyarakat yang dipimpin Oru menyesal telah memilihnya sebagai pemimpin karena terbuai kebohongan yang keluar dari mulut Oru. Oru yang sudah terbiasa berbohong dan berdusta tidak merasakan penyesalan dalam perilakunya.
Masyarakat yang kecewa akan membangun gerakan untuk meruntuhkan Oru. Perlahan namun  pasti kepercayaan dan dukungan masyarakat hilang. Tanpa adanya sifat gotong royong dan saling mendukung antara masyarakat dan Oru selaku pemimpin, negri Oru terpuruk dan akan mati.
Sekarang di Negri tercinta kita Indonesia, korupsi menjadi permasalahan besar akibat ketidakjujuran yang harus diselesaikan. Setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi jujur dan tidak jujur. Untuk mencegah hadirnya pemimpin buruk dan menjadikan kisah diatas kenyataan, ada satu sifat kunci yang harus ditanamkan pada semua  orang, yakni pendidikan karakter kejujuran.

2.     Menumbuhkan Kejujuran

Perilaku ketidak jujuran Oru dapat terjadi karena Oru sudah terbiasa dengan kebohongan. Hatinya tidak merasa salah karena sudah terkondisikan untuk berbohong. Bayangkan kita jika Oru memiliki setitik kejujuran dalam hatinya, akan ada bisikan kecil yang mengingatkan dia untuk memiliki Integritas. Individu yang jujur adalah individu mampu menghargai apa yang dimiliki. Hati yang jujur menghasilkan tindakan-tindakan yang jujur. Jika kejujuran sudah ada dan melekat pada diri individu maka akan mendatangkan banyak hal yang positif, individu tidak akan berfikir untuk melakukan hal yang curang.
Integritas harus di tumbuhkan dengan cara memberikan pendidikan kejujuran kepada para anak. Para anak yang merupakan calon pemimpin masa depan harus tumbuh dekat dengan sifat kejujuran.  Ketika memiliki integritas , untuk berkata “Aku Anak Jujur” sang anak akan memiliki rasa tanggung jawab akan pernyataan itu, dan hal itu akan menjaga karakter sang anak dalam pertumbuhan.
Mendapatkan karakter kejujuran memanglah tidak mudah dan membutuhkan perjuangan. Namun, sebuah kejujuran tidak ternilai nilainya sebagai fondasi bangsa dan harus didapatkan. Pembangunan karakter kejujuran  harus dilakukan sepanjang masa demi negri berjaya, dan hal ini dapat dilakukan lewat media sederhana seperti:
  1. Keluarga

Sifat kejujuran yang ditanamkan sepanjang waktu ini masuk melalui pintu gerbang pertama dan terpenting yakni Keluarga. Pendidikan yang pertama diterima anak  bukanlah lewat sekolah namun lewat keluarga. Anak tumbuh dengan mencontoh keluarganya, maka keluarga harus memberikan contoh yang baik dalam bersikap kepada anaknya. Jika kita memberikan contoh dan melakukan pengawasan yang baik terhadap anak, pasti anak akan tumbuh dengan karakter yang baik.
Kejujuran dalam keluarga dapat dilakukan dari hal hal kecil seperti membiasakan anak bercerita tentang aktifitas mereka, memeriksa pekerjaan rumah, dan meminta bantuan kecil  seperti belanja dan bersih bersih. Dari hal hal kecil ini, kita biasakan anak untuk mengimplementasikan kejujuran mereka. Pertanyaan kecil seperti “Apa cerita tadi benar?” atau “Tadi belanja kembaliannya berapa?” dapat menguji kejujuran dari jawaban anak. Dan alangkah baiknya jika kita dapat memberikan penghargaan terhadap kejujuran ini dengan sesuatu seperti pujian, sehingga meraka akan senang berperilaku jujur. Namun, jangan biarkan anak kita terbiasa berbohong, tunjukan bahwa kita mengetahui kebohongan mereka dan menghukum secukupnya seperti membersihkan kamar, atau mengurangi uang jajan agar mereka tidak menyukai kebohongan.
  1.  Sekolah

Tidak dapat dipungkiri, waktu anak banyak habis disekolah. Disinilah anak akan belajar banyak hal soal hidup dan materi ilmiah. Di sekolah pula anak anak akan mendapatkan pendidikan karakter yang berharga. Sekolah sangat berpotensi untuk mengembangkan karakter kejujuran anak dengan membiasakan diri anak membaca tulisan kejujuran,slogan slogan jujur dan cerita serta dongeng tentang kejujuran kepada anak.
Anak akan mendapatkan banyak godaan untuk berlaku tidak jujur di sekolah. Kegiatan seperti mencontek saat ujian, menemukan barang hilang,  melaksanakan piket kelas, kantin kejujuran, menjaga uang saat menjadi bendahara, dan lain lain merupakan tantangan yang dapat melatih kejujuran dan tanggung jawab anak. Disini tugas pengajar sangat penting untuk mengawasi anak dan menghargai ketika sang anak memiliki rasa kejujuran yang tinggi, sehingga dia akan merasa bangga atas pencapaiannya dan menjadi panutan anak anak lain semurannya.

c.       Hobi dan Kegemaran

Kita memang lebih mudah menerima sesuatu jika kita memiliki rasa suka terhadap hal itu. Penanaman rasa jujur dapat dilakukan lewat beragam hal menyenangkan seperti berjalan jalan dan bercerita tentang kejujuran, media musik dan televisi yang bertema kejujuran, bahkan menyelipkan nilai kejujuran dalam berbagai jenis permainan. Dengan cara yang inovatf diharapkan anak dan orang orang akan lebih mudah menerima kejujuran di dalam dirinya.
Permainan tradisional, ataupun modern jika dilakukan dengan pengawasan yang baik dapat menjadi media belajar kejujuran. Musik dan film yang penuh dengan nilai nilai buruk harus di pilih dengan cermat, karena saya pribadi merasa miris ketika melihat anak kecil menyanyikan lagu cinta penuh dusta dengan lafal dibandingkan menyanyikan lagu yang penuh nilai pengajaran selama ini. Inti yang ingin saya sampaikan bahwa banyak sekali media untuk menyampaikan nilai kejujuran pada anak.

3.     Kesimpulan

Dari yang sudah di bahas, saya dapat menyimpulkan bahwa banyak sekali cara untuk membuat anak tumbuh memiliki rasa kejujuran dan tanggung jawab.  Meski banyak tantangan dalam menumbuhkan rasa kejujuran, namun dengan kegigihan kita pasti bisa membangunnya. Jangan sampai Indonesia menjadi seperti Negri Oru diawal cerita.  Bersama marilah kita bangun negri utopia makmur damai yang penuh kejujuran.
Negri kita sangat bergantung pada individu jujur berkualitas, sebuah generasi yang hatinya dapat memaknai dan jiwanya memegang tanggung jawab penuh ketika menyetakan “aku anak jujur” dari mulutnya. Jika generasi penerus kita memiliki fondasi kejujuran yang kuat, maka saya yakin berkata ”Indonesia pasti akan jaya”.