Kamis, 11 Januari 2018

Bhinneka Tunggal Ika, Toleransi dan Ancaman Hoax

Keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan dapat terbentuk dengan adanya rasa saling mengerti. Meskipun, diciptakan dengan berbagai kondisi dan keberagaman, saya dapat meyakini bahwa manusia dapat saling mengerti satu sama lain. Ketika kita menyadari adanya perbedaan pada diri kita dan orang lain, akan lebih mudah bagi kita untuk saling menerima perbedaan itu pada orang lain. Dan rasa saling mengerti dan memahami perbedaan yang tumbuh ini kita bisa sebut sebagai toleransi.

Di Indonesia sendiri kita selalu menganut semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya “Berbeda Beda namun Satu”. Sebuah semboyan yang benar benar menggambarkan keberagaman Indonesia yang  harus bersatu meskipun diwarnai berbagai macam jenis budaya, Bahasa daerah, warna kulit, ras, dan agama. Semboyan ini mengajarkan bahwa sangat penting  bagi kita untuk hidup rukun dan bertoleransi dalam keberagaman. Hal ini merupakan hal fundamental yang sangat penting untuk dipegang teguh setiap warga Indonesia. Bahkan untuk memupuk nilai ini pada tiap individu rakyatnya, kita sudah menerima ini dalam pelajaran PKN dan budi pekeri sejak menginjak sekolah dasar.
Persatuan Indonesia sangat bergantung pada kapasitas rakyatnya untuk menerima perbedaan dan bertoleransi dalam hidup bersama. Akan tetapi, rasa toleransi yang ada akhir akhir ini mulai terancam. Menurut saya, ancaman ini  muncul akibat adanya perkembangan teknologi yang sangat cepat tanpa adaptasi yang memadai. Dengan adanya akses ke Internet, mendapatkan informasi sangatlah mudah dan secara semu dapat membangun rasa independen yang tinggi. Dengan adanya akses informasi yang lebih mudah, sekarang manusia dapat dengan lebih mudah mencari sumber informasi yang mereka inginkan tanpa bantuan lagi. Letak permasalahannya tidak semua sumber informasi yang tersedia di Internet itu dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan.

Berita Palsu dan Hoax di Indonesia

Informasi yang beredar di Internet itu jumlahnya tidak terhitung, dan muncul dari ide di kepala orang yang tidak terkira jumlahnya. Setiap orang memiliki ide dan bias mereka sendiri terhadap sebuah informasi, dan hal itu merupakan hal yang lumrah dan wajar. Karena perbedaan ini, meskipun ada sebuah fakta yang sama, beragam perspektif yang berbeda dapat muncul dengan beragam argument yang berbeda. Mendiskusikan dan mengenal perspektif yang berbeda itu akan membuat kita lebih mudah untuk sepakat akan suatu argument atau membuat kita lebih mudah menerima argument lawan.
Kita bisa merasa pro atau kontra tentang sesuatu, namun dengan adanya diskusi yang baik kita akan menerima lebih banyak hal baik karena kita memiliki sebuah titik temu antara dua perspektif berbeda lewat diskusi. Munculnya berita palsu yang beredar sangat kuat di Indoensia, akan sangat mengganggu proses untuk mencapai rasa saling mengerti itu. Hal ini terjadi karena akar argument yang muncul diangkat dari dua basis atau dasar fakta yang berbeda. Titik temu antara kedua argument dari fakta yang berbeda tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, fakta palsu yang di dapat dari hoax haruslah diluruskan.
Meluruskan hoax memerlukan beberapa hal yang penting untuk dipegang yakni openminded terhadap argument lawan, dan kemauan membaca dengan kritis. Kemauan untuk membaca dengan kritis adalah hal yang saya kira masih kurang dalam individu rakyat Indonesia. Rendahnya kemauan untuk mengecek sumber lain dan kemudahan untuk mempercayai semua sumber informasi adalah alasan berita hoax sangat laris dan berkembang dengan cepat di Indonesia.
Masih banyak orang di Indonesia masih dengan mudahnya mempercayai hoax yang beredar di media sosial, dan memusuhi media berita yang harus melewati banyak proses untuk disiarkan. Fenomena ini muncul karena trend membaca yang berkembang di Indonesia pada jaman sekarang itu lebih cenderung “Getting Your News, NOT Getting the news”. Yang aknanya adalah kita hanya mendengarkan dan membaca berita yang kita inginkan, kita tidak mau mengecek sesuatu fakta yang hanya akan melemahkan argument miliki kita. Dengan adanya trend buruk seperti itu kita akan semakin jauh dari fakta dan kebenaran, kemudian pada akhirnya tidak bisa sepakat dalam satu halpun.
Objektifitas di sini sangatlah penting. Kita harus berpegang teguh “It’s not about I’m Right, but about What’s Right”. Ini bukan tentang SIAPA yang benar, namun APA yang benar. Dan untuk mencari sebuah fakta kita harus suka membaca, dan kita tidak dapat menghindari peran teknologi dalam membaca. Kita harus mempersiapkan diri untuk meningkatkan kesadaran diri untuk bertanggung jawab dalam menggunakan internet, dan memupuk rasa ingin tahu dan openminded untuk mengecek banyak sumber.

Penutup dan Pesan Akhir

Marilah kita berantas hoax dengan mengajak untuk lebih peduli tentang fakta dan pesan saya “Don’t be Ignorant People”. Kelanjutan dari persatuan dan perdamaian Indonesia bergantung juga dari kebiasaan membaca kita, marilah membangun Indonesia dengan lebih banyak membaca.

Sumber Referensi Pengertian Bhineka Tunggal Ika

https://komunitasgurupkn.blogspot.com/2014/08/pengertian-dan-makna-bhinneka-tunggal.html